Dari
sekian banyak teknik komunikasi pemasaran ada satu teknik yang seakan
disepelekan atau malah terlupakan. Padahal, sejumlah pakar mengakuinya dan
terbukti sebagai teknik yang paling ampuh. Itulah pemasaran getok tular/ dari
mulut ke mulut (word-of-mouth marketing).
Pemasaran
getok tular belum mendapat perhatian yang semestinya. Banyak praktisi pemasaran
atau komunikasi tidak mencantumkan teknik ini dalam program tahunan yang mereka
susun. Padahal, banyak pakar sekaliber Wilson dan Regis McKenna mengakui, bahwa
penyebaran berita atau cerita melalui getok tular merupakan teknik komunikasi
pemasaran terampuh untuk mengharumkan atau merusak citra. Wilson mengemukakan selusin prinsip dan satu
prinsip bonus. Berikut ulasan dari sebagian prinsip itu. Pertama, produk atau
jasa harus bagus. Prinsip diperkuat dengan pelayanan yang juga bagus
Menurut Yuswohadi, dunia marketing saat ini telah berubah sangat drastis.
Marketer cukup mengerjakan 10% saja, lalu sisanya 90% dikerjakan oleh konsumen.
Teory ini dikenal dengan “marketing 10:90”.
Marketer cukup menciptakam produk unggul dan authentic brand story, lalu
menaruhnya di Youtube atau memicu percakapan di Twitter/Facebook, that’s it.
Lalu konsumen lah yang bekerja keras membesarkan dan menyebarkan gelembung
viral dari authentic brand story tersebut ke konsumen lain di seantero tanah
air.
Jokowi-Basuki dan team suksesnya menyadari atau tidak telah
menjalankan marketing 10:90 ini. Mereka menciptakan produk yang
unggul yakni Jokowi yang membangun dari kampanye city branding “Solo: The Spirit of Java”, relokasi pasar yang manusiawi,
hingga dukungan terhadap mobil Esemka yang
meroketkan namanya di kancah politik nasional.
Lalu dibangun authentic brand story yakni
Jokowi menjadi ikon pemimpin yang merakyat, hobi turun ke lapangan, mendengar
keluh-kesah masyarakat, sosok pribadi yang sederhana dan apa adanya. Siapa yang
“mengarang” seluruh cerita di
seputar keikonan Jokowi? Yang membuat cerita tak lain adalah masyarakat (baca:
konsumen) melalui cerita dari mulut ke mulut (Word of Mouth) secara natural dan
otentik di kalangan tukang becak, obrolan di warung Tegal, hingga
diskusi-diskusi di kampus . dari internet :facebook, twitter, blog, Website
(word of Mouse).
Dengan modal
prestasi masa lalu dan cerita otentik itu, viral keikonan Jokowi merambat cepat
ke seluruh penjuru tanah air menjelang hari H pencoblosan. Di sinilah massa
pemilih bekerja keras menyebarkan cerita-cerita keikonan Jokowi baik
secara offline (dari mulut ke
mulut) maupun secara online (melalui
ranah internet). Media sosial seperti YouTube, blog, Facebook, Twitter,
Youtube, hingga BBM menjadi tools ampuh yang memungkinkan massa pemilih
demikian gampang menyebarkan cerita mengenai keikonan Jokowi.
Singkatnya, sebagian besar pemasaran Jokowi di Pilkada DKI bukanlah
dilakukan Jokowi dan tim suksesnya, tapi dilakukan secara voluntir, natural, dan otentik oleh massa
pemilihnya melalui penyebaran WOM yang powerful. Jokowi melakukan 10% pekerjaan, sisanya 90%
dilakukan oleh massa pemilihnya.
Bagaimana
dengan Foke…
Foke yang lebih terkesan elitis dan birokratis sehingga seakan akan jauh
dari masyarakat. Strategy lebih fokus kepada kelemahan lawan lupa kepada
kelemahan diri sendiri. Ahli strategy perang Cina kuno Sun Tzu mengatakan
““Walau
tahu kelemahan lawan, tapi bila tidak tahu kelemahan dirimu, pasti engkau akan
mengalami kekalahan” . Dan seharusnya fokus kepada
upaya mengimbangin atau menghadang kekuatan lawan, seperti nasehat Sun Tzu yang
lain “Jangan
menyerang pada kelemahan musuh, serang pada kekuatan terbesarnya. Agar
kemenangan dapat dibanggakan”
Hasil copas dari berbagai
sumber, selasa 28 januari jam 1 malam,
Ngantuk tidur dulu ahhh..