Selasa, 28 Januari 2014

Getuk Tular, prinsip marketing ndeso efek kuto

Dari sekian banyak teknik komunikasi pemasaran ada satu teknik yang seakan disepelekan atau malah terlupakan. Padahal, sejumlah pakar mengakuinya dan terbukti sebagai teknik yang paling ampuh. Itulah pemasaran getok tular/ dari mulut ke mulut  (word-of-mouth marketing).
Pemasaran getok tular belum mendapat perhatian yang semestinya. Banyak praktisi pemasaran atau komunikasi tidak mencantumkan teknik ini dalam program tahunan yang mereka susun. Padahal, banyak pakar sekaliber Wilson dan Regis McKenna mengakui, bahwa penyebaran berita atau cerita melalui getok tular merupakan teknik komunikasi pemasaran terampuh untuk mengharumkan atau merusak citra. Wilson mengemukakan selusin prinsip dan satu prinsip bonus. Berikut ulasan dari sebagian prinsip itu. Pertama, produk atau jasa harus bagus. Prinsip diperkuat dengan pelayanan yang juga bagus
Menurut Yuswohadi, dunia marketing saat ini telah berubah sangat drastis. Marketer cukup mengerjakan 10% saja, lalu sisanya 90% dikerjakan oleh konsumen. Teory ini dikenal dengan “marketing 10:90”. Marketer cukup menciptakam produk unggul dan  authentic brand story, lalu menaruhnya di Youtube atau memicu percakapan di Twitter/Facebook, that’s it. Lalu konsumen lah yang bekerja keras membesarkan dan menyebarkan gelembung viral dari authentic brand story tersebut ke konsumen lain di seantero tanah air.
Jokowi-Basuki dan team suksesnya menyadari atau tidak telah  menjalankan marketing 10:90 ini. Mereka menciptakan  produk yang unggul yakni Jokowi  yang membangun dari kampanye city branding “Solo: The Spirit of Java”, relokasi pasar yang manusiawi, hingga dukungan terhadap mobil Esemka yang meroketkan namanya di kancah politik nasional.
Lalu dibangun  authentic brand story  yakni Jokowi menjadi ikon pemimpin yang merakyat, hobi turun ke lapangan, mendengar keluh-kesah masyarakat, sosok pribadi yang sederhana dan apa adanya. Siapa yang “mengarang” seluruh cerita di seputar keikonan Jokowi? Yang membuat cerita tak lain adalah masyarakat (baca: konsumen) melalui cerita dari mulut ke mulut (Word of Mouth) secara natural dan otentik di kalangan tukang becak, obrolan di warung Tegal, hingga diskusi-diskusi di kampus . dari internet :facebook, twitter, blog, Website (word of Mouse).
Dengan modal prestasi masa lalu dan cerita otentik itu, viral keikonan Jokowi merambat cepat ke seluruh penjuru tanah air menjelang hari H pencoblosan. Di sinilah massa pemilih bekerja keras menyebarkan cerita-cerita keikonan Jokowi baik secara offline (dari mulut ke mulut) maupun secara online (melalui ranah internet). Media sosial seperti YouTube, blog, Facebook, Twitter, Youtube, hingga BBM menjadi tools ampuh yang memungkinkan massa pemilih demikian gampang menyebarkan cerita mengenai keikonan Jokowi.
Singkatnya, sebagian besar pemasaran Jokowi di Pilkada DKI bukanlah dilakukan Jokowi dan tim suksesnya, tapi dilakukan secara voluntirnatural, dan otentik oleh massa pemilihnya melalui penyebaran WOM yang powerful. Jokowi melakukan 10% pekerjaan, sisanya 90% dilakukan oleh massa pemilihnya.
Bagaimana dengan Foke…
Foke yang lebih terkesan elitis dan birokratis sehingga seakan akan jauh dari masyarakat. Strategy lebih fokus kepada  kelemahan lawan lupa kepada kelemahan diri sendiri. Ahli strategy  perang Cina kuno Sun Tzu mengatakan “Walau tahu kelemahan lawan, tapi bila tidak tahu kelemahan dirimu, pasti engkau akan mengalami kekalahan” . Dan seharusnya fokus kepada upaya mengimbangin atau menghadang kekuatan lawan, seperti nasehat Sun Tzu yang lain “Jangan menyerang pada kelemahan musuh, serang pada kekuatan terbesarnya. Agar kemenangan dapat dibanggakan


Hasil copas dari berbagai sumber, selasa 28 januari jam 1 malam,
Ngantuk tidur dulu ahhh..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar